PENGERTIAN ILMU EKONOMI ,EKONOMI MAKRO,DAN MIKRO EKONOMI
MAKALAH
ILMU EKONOMI

NAMA : FERONIKA L SIHOMBING
NIM : 041602503125162
JURUSAN : AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA
KATA PENGANTAR
Puji Syukur
dipanjatkan kehadirat TUHAN Yang Maha Esa, oleh karena berkat dan tuntunanNya,
sehingga kami diberi kesempatan untuk menyusun makalah yang berjudul “ILMU
EKONOMI” siap pada waktunya.
Makalah ini
diajukan sebagai salah satu tugas pada mata kuliah “ Ekonomi Makro.”
Dalam penyusunan
makalah ini, penyusun mengalami banyak kendala, hambatan, dan kesulitan. Namun,
berkat pertolongan TUHAN Yang Maha Esa serta dorongan dan bantuan semua pihak,
sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Penyusun menyadari
bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan
kekurangan yang ada. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun
dari semua pihak sangat kami harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan makalah
ini, sebagai tambahan wawasan untuk menggapai keberhasilan.
Kiranya makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, dan atas perhatian dan kerja
sama yang baik, diucapkan terima kasih.
Bekasi,10 Juli
2017
Penyusun,
Feronika L
Sihombing
Pada dasarnya, ilmu ekonomi termasuk ilmu
sosial karena aspek penelitian dan pembahasannya menyangkut masalah manusia dan
aktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun, dalam kenyataannya ilmu
ekonomi ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu matematika dan statistik. Berdasarkan
lingkup kekhususannya, ilmu ekonomi terbagi dalam dua golongan, yakni Ilmu
ekonomi Makro dan Ilmu Ekonomi Mikro. Apa perbedaan antara
keduanya? Ikuti ulasannya berikut ini:
IImu ekonomi makro (macro economics)
IImu ekonomi makro pada dasarnya bertujuan mempelajari
tingkat keseluruhan ekonomi, seperti total tingkat kebutuhan keluarga, tingkat
pendapatan nasional, jumlah keseluruhan lapangan kerja, dan tingkat harga umum
dalam perekonomian. Jadi, pengertian ilmu ekonomi makro (macro
economics) adalah ilmu ekonomi yang mengkhususkan untuk mempelajari perilaku
masyarakat luas dalarn memenuhi kebutuhannya secara menyeluruh. Aspek
analisisnya, antara lain, meliputi berbagai masalah yang berkaitan
dengan:
·
pendapatan
nasional,
·
investasi,
·
kesernpatan
kerja,
·
inflasi,
dan
·
neraca
pembayaran.
Dalam perkembangannya, ilmu ekonomi makro berkaitan pula dengan
masalah ekonomi publik (negara), ekonomi moneter, ekonomi pembangunan, dan
sebagainya.
IImu ekonomi mikro
(micro economics)
Ilmu ekonomi mikro pada dasarnya mempelajari perilaku ekonomi dari
satuanpenqambilan keputusan individu, seperti konsumen, pemilik sumber daya,
dan perusahaan-perusahaan dalam perekonomian bebas usaha. Jadi, pengertian
ilmu ekonomi mikro (micro economics) adalah ilmu ekonomi yang mengkhususkan
untuk mempelajari perilaku individu manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
Aspek analisisnya meliputi:
- analisis
biaya dan manfaat,
- teori
permintaan dan penawaran,
- elastisitas,
- model-model
pasar,
- industri,
- teori
produksi, dan
- teori
harga.
Pengembangan ilmu ekonomi mikro, antara lain, melahirkan
teori-teori dan konsep-konsep yang berkaitan dengan ekonomi manajerial, ekonomi
lingkungan, ekonomi regional, dan ekonomi sumber daya alam.
Masalah Pokok Pembangunan Ekonomi
Pada dasarnya tujuan dari suatu negara melaksanakan pembangunan
adalah untuk mengatasi atau keluar dari masalah-masalah yang selama ini
dihadapi. Setidaknya ada tiga masalah pokok yang dihadapi oleh suatu negara,
terutama negara sedang berkembang dan negara terbelakang yaitu kemiskinan,
ketimpangan dalam distribusi pendapatan, dan pengangguran.
a. Kemiskinan
Masalah kemiskinan merupakan masalah bagi setiap negara. Masalah kemiskinan mendorong setiap negara untuk melakukan pembangunan. Masalah kemiskinan ini harus diatasi karena memiliki dampak yang sangat luas bagi kehidupan seseorang ataupun suatu bangsa, baik dari dimensi ekonomi maupun nonekonomi.
b. Ketimpangan dalam distribusi pendapatan
Masalah kemiskinan seringkali dihubungkan dengan masalah ketidakmerataan distribusi pendapatan. Pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus tidak selalu dapat mengurangi tingkat kemiskinan atau pertumbuhan ekonomi tidak berkorelasi positif dengan distribusi pendapatan. Ketimpangan distibusi pendapatan membuat jurang si kaya dan si miskin semakin curam yang mengakibatkan terjadinya kecemburuan sosial dan berpotensi untuk memicu terjadinya berbagai tindakan kriminal.
c. Pengangguran
Masalah pengangguran merupakan masalah pokok dan bersifat jangka panjang yang harus dihadapi oleh suatu negara. Sekalipun suatu negara memiliki pengangguran sama dengan nol atau negatif, belum tentu negara tersebut tidak memiliki masalah pengangguran karena pengangguran itu sendiri memiliki banyak kategori.
d. Inflasi
Terjadinya kemerosotan nilai uang akibat jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga memicu kenaikan harga barang-barang akan berdampak pada menurunnya pendapat riil orang-orang yang berpenghasilan tetap sehingga daya belinya ikut menurun. Penurunan daya beli masyarakat akan berdampak pada dunia usaha, karena perusahaan akan mengurangi kapasitas peroduksinya, atau bahkan menghentikan produksinya. Akibatnya terjadi PHK yang akan meningkatkan jumlah pengangguran. Inflasi yang tinggi juga membawa dampak pada meningkatnya suku bunga, yang akan membuat perbankan terpuruk. Itulah mengapa inflasi termasuk ke dalam masalah pokok pembangunan, sebab inflasi yang meningkat tajam akan menganggu kestabilan perekonomian nasional.
a. Kemiskinan
Masalah kemiskinan merupakan masalah bagi setiap negara. Masalah kemiskinan mendorong setiap negara untuk melakukan pembangunan. Masalah kemiskinan ini harus diatasi karena memiliki dampak yang sangat luas bagi kehidupan seseorang ataupun suatu bangsa, baik dari dimensi ekonomi maupun nonekonomi.
b. Ketimpangan dalam distribusi pendapatan
Masalah kemiskinan seringkali dihubungkan dengan masalah ketidakmerataan distribusi pendapatan. Pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus tidak selalu dapat mengurangi tingkat kemiskinan atau pertumbuhan ekonomi tidak berkorelasi positif dengan distribusi pendapatan. Ketimpangan distibusi pendapatan membuat jurang si kaya dan si miskin semakin curam yang mengakibatkan terjadinya kecemburuan sosial dan berpotensi untuk memicu terjadinya berbagai tindakan kriminal.
c. Pengangguran
Masalah pengangguran merupakan masalah pokok dan bersifat jangka panjang yang harus dihadapi oleh suatu negara. Sekalipun suatu negara memiliki pengangguran sama dengan nol atau negatif, belum tentu negara tersebut tidak memiliki masalah pengangguran karena pengangguran itu sendiri memiliki banyak kategori.
d. Inflasi
Terjadinya kemerosotan nilai uang akibat jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga memicu kenaikan harga barang-barang akan berdampak pada menurunnya pendapat riil orang-orang yang berpenghasilan tetap sehingga daya belinya ikut menurun. Penurunan daya beli masyarakat akan berdampak pada dunia usaha, karena perusahaan akan mengurangi kapasitas peroduksinya, atau bahkan menghentikan produksinya. Akibatnya terjadi PHK yang akan meningkatkan jumlah pengangguran. Inflasi yang tinggi juga membawa dampak pada meningkatnya suku bunga, yang akan membuat perbankan terpuruk. Itulah mengapa inflasi termasuk ke dalam masalah pokok pembangunan, sebab inflasi yang meningkat tajam akan menganggu kestabilan perekonomian nasional.
1. Metode Penghitungan Pendapatan secara nasional / Produksi
Nasional
Pendapatan “income” nasional dapat dihitung sesuai data yang terkumpul dari fakta yang ada di masyarakat. Penghitungan pendapatan (income) nasional harus dilakukan secara cermat dan akurat karena sangat penting artinya bagi masyarakat. Ada tiga pendekatan dalam menghitung pendapatan produksi nasional, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Marilah kita membahas masing-masing pendekatan tersebut lebih mendalam.
Pendapatan “income” nasional dapat dihitung sesuai data yang terkumpul dari fakta yang ada di masyarakat. Penghitungan pendapatan (income) nasional harus dilakukan secara cermat dan akurat karena sangat penting artinya bagi masyarakat. Ada tiga pendekatan dalam menghitung pendapatan produksi nasional, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Marilah kita membahas masing-masing pendekatan tersebut lebih mendalam.
a. Pendapatan (income) Nasional dari Pendekatan Produksi (Product Approach)
Dengan pendekatan produksi secara nasional , pendapatan / income nasional dilakukan dengan cara mengumpulkan data tentang hasil akhir barang-barang dan jasa-jasa untuk suatu periode tertentu dari semua unit produksi yang menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa tersebut. Jadi pendapatan (income) nasional menurut pendekatan produksi adalah jumlah nilai tambah semua barang dan jasa selama satu tahun secara nasional. Barang dan jasa yang dimaksud adalah barang terakhir (final goods) atau barang jadi (finished goods), artinya barang yang langsung dapat diterima konsumen.penghitungan.
b. Pendapatan ‘income’ Nasional dari Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
Ditinjau dari pendekatan pendapatan secara nasional , penghitungan pendapatan income nasional dilakukan dengan cara mengumpulkan data pendapatan yang diperoleh oleh rumah tangga keluarga. Atau dengan cara menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh pemilik faktor produksi dalam suatu masyarakat secara nasional selama satu tahun secara nasional. Pendapatan ini berupa sewa, upah dan gaji, bunga, dan laba usaha.
c. Pendapatan “income” Nasional dari Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)
Ditinjau dari pendekatan pengeluaran secara nasional , penghitungan pendapatan / income nasional dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh masyarakat dalam perekonomian, sektor konsumen, perusahaan (investasi), pemerintah dan sektor perdagangan luar negeri. Atau dengan cara menjumlahkan seluruh pengeluaran/belanja masyarakat dalam kurun waktu satu tahun secara nasional.
2. Komponen pada
Pendapatan “income” Nasional
Oleh karena penentuan pendapatan (income) nasional suatu negara dihitung melalui tiga pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran, maka komponen yang diperhitungkan dalam pendapatan ‘income’ nasional juga terdapat perbedaan.
Oleh karena penentuan pendapatan (income) nasional suatu negara dihitung melalui tiga pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran, maka komponen yang diperhitungkan dalam pendapatan ‘income’ nasional juga terdapat perbedaan.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini diuraikan komponen pendapatan /income nasional yang ditinjau dari tiga sisi.
a. Komponen pada Pendapatan “income” Nasional dari Sisi Produksi
Sebagaimana kamu ketahui, penghitungan pendapatan ‘income’ nasional dengan metode produksi dilakukan dengan menjumlahkan nilai tambah semua barang-barang dan jasa-jasa. Ambil saja contoh produk ke-1 ditandai dengan Q1, produk ke-2 ditandai Q2, maka produk ke-n ditandai dengan Qn. Dan bila produk tersebut dijual kepada konsumen, maka harga jual produk ke-1 ditandai dengan P1, harga produk ke-2 ditandai dengan P2, dan harga produk ke-n ditandai dengan Pn, Dari berbagai identifikasi kompopnen di atas akan dihasilkan bentuk persamaan sebagai berikut.
Sebagaimana kamu ketahui, penghitungan pendapatan ‘income’ nasional dengan metode produksi dilakukan dengan menjumlahkan nilai tambah semua barang-barang dan jasa-jasa. Ambil saja contoh produk ke-1 ditandai dengan Q1, produk ke-2 ditandai Q2, maka produk ke-n ditandai dengan Qn. Dan bila produk tersebut dijual kepada konsumen, maka harga jual produk ke-1 ditandai dengan P1, harga produk ke-2 ditandai dengan P2, dan harga produk ke-n ditandai dengan Pn, Dari berbagai identifikasi kompopnen di atas akan dihasilkan bentuk persamaan sebagai berikut.
Jadi komponen pada pendapatan (income) nasional dari sisi
produksi, yaitu: macam produk, jumlah produk yang terjual dari berbagai macam
produk, dan harga jual produk. Secara singkat dapat dirumuskan sebagai berikut.
Keterangan:
PN= pendapatan /income nasional
Pn = harga jual suatu produk
Qn = hasil produksi
PN= pendapatan /income nasional
Pn = harga jual suatu produk
Qn = hasil produksi
Contoh penghitungan nilai tambah produksi secara nasional tampak pada tabel berikut ini.
b. Komponen pada Pendapatan ‘income’ Nasional dari Sisi
Pengeluaran
Dari sisi pengeluaran, pendapatan “income” nasional dihitung dengan menjumlahkan pengeluaran (expenditure) masing-masing sektor perekonomian berikut ini.
Dari sisi pengeluaran, pendapatan “income” nasional dihitung dengan menjumlahkan pengeluaran (expenditure) masing-masing sektor perekonomian berikut ini.
1) Sektor keluarga
atau sektor konsumen Pengeluaran yang dilakukan oleh sektor keluarga
disebut pengeluaran untuk konsumsi (consumption expenditure).
2) Sektor perusahaan
atau sektor produsen
Pengeluaran yang dilakukan oleh sektor perusahaan akan membentuk apa yang disebut investasi (investment expenditure).
Pengeluaran yang dilakukan oleh sektor perusahaan akan membentuk apa yang disebut investasi (investment expenditure).
3) Sektor pemerintah
Pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah disebut pengeluaran pembelian pemerintah (government expenditure).
4) Sektor perdagangan
luar negeri
Pengeluaran dari sektor luar negeri disebut ekspor neto, yakni selisih antara jumlah ekspor dikurangi dengan jumlah impor.
Pengeluaran dari sektor luar negeri disebut ekspor neto, yakni selisih antara jumlah ekspor dikurangi dengan jumlah impor.
Perhatikan tabel nilai ekspor berikut ini.
Perkembangan
nilai ekspor 11 komoditi utama industri dan pertambangan Indonesia tahun
2004, 2005 (Januari–Mei)
2005 dan 2006 (dalam juta dollar AS). Sumber: BPS (diolah Ditjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan, dengan HS dua digit) Keterangan: *) Angka sementara. |
Adapun komponen pada pendapatan / income nasional dari sisi
pengeluaran meliputi berikut ini.
1) Pengeluaran konsumsi (C), meliputi semua pengeluaran rumah
tangga keluarga dan perseorangan serta lembaga swasta bukan perusahaan untuk
membeli barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan.
2) Pengeluaran investasi (I) meliputi semua pengeluaran domestik (dalam negeri) yang dilakukan oleh swasta untuk mendirikan bangunan, mesin-mesin, perlengkapan, dan jumlah persediaan perusahaan.
3) Pengeluaran pembelian pemerintah (G), terdiri pembayaran pensiun, beasiswa, subsidi dalam berbagai bentuk, dan transfer pemerintah.
4) Ekspor neto (X–M), meliputi keseluruhan jumlah barang dan
jasa yang diekspor dan diimpor. Jika ekspor lebih besar dari impor, maka ekspor
neto bertanda positif (+). Sebaliknya bila ekspor lebih kecil dari impor, maka
ekspor neto bertanda negatif (–).
Bila komponen-komponen tersebut dituliskan
dalam bentuk persamaan, maka akan tampak sebagai berikut.
Keterangan:
GNP = Gross National Product atau Pendapatan (income) Nasional Bruto (PNB)
C = pengeluaran untuk konsumsi barang dan jasa
I = pengeluaran untuk investasi
G = pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa
X = nilai barang ekspor
M = nilai barang impor
X – M = ekspor neto
GNP = Gross National Product atau Pendapatan (income) Nasional Bruto (PNB)
C = pengeluaran untuk konsumsi barang dan jasa
I = pengeluaran untuk investasi
G = pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa
X = nilai barang ekspor
M = nilai barang impor
X – M = ekspor neto
Berikut ini tabel contoh penghitungan pendapatan “income” nasional dari sisi pengeluaran.
c. Komponen pada Pendapatan /income Nasional dari Sisi
Pendapatan
Dari sisi pendapatan, pendapatan ‘income’ nasional dihitung dengan menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi, yang terdiri atas sewa, upah dan gaji, bunga, dan laba.
Dari sisi pendapatan, pendapatan ‘income’ nasional dihitung dengan menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi, yang terdiri atas sewa, upah dan gaji, bunga, dan laba.
Jadi, komponen pada pendapatan “tingkat”
nasional dari sisi pendapatan adalah:
1) sewa (rent income) atau disingkat r,
2) upah dan gaji (wage and salary income) atau disingkat w,
3) bunga (interest income) atau disingkat i, dan
4) laba usaha (profit income) atau disingkat p.
1) sewa (rent income) atau disingkat r,
2) upah dan gaji (wage and salary income) atau disingkat w,
3) bunga (interest income) atau disingkat i, dan
4) laba usaha (profit income) atau disingkat p.
Dalam bentuk persamaan
dapat dirumuskan sebagai berikut.
Berikut ini tabel
contoh penghitungan pendapatan (income) nasional dari sisi pendapatan.
d. Faktor-Faktor yang
Memengaruhi Pendapatan ‘income’ Nasional
Setiap komponen dari pendapatan “income” nasional suatu negara sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pihak pembeli dan pihak penjual.
Setiap komponen dari pendapatan “income” nasional suatu negara sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pihak pembeli dan pihak penjual.
1) Pihak pembeli atau konsumen, artinya pendapatan yang diterima oleh setiap konsumen dikeluarkan kembali untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/produsen. Pengeluaran untuk pembelian tersebut dinamakan pengeluaran konsumsi (C = consumption), dan pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi dinamakan tabungan (S = saving). Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa:
Keterangan:
Y = Tingkat pendapatan
C = Tingkat konsumsi
S = Tingkat tabungan
Y = Tingkat pendapatan
C = Tingkat konsumsi
S = Tingkat tabungan
2) Pihak penjual atau produsen, artinya barang-barang yang dihasilkan oleh produsen terdiri atas barang-barang konsumsi atau consumption (C) dan barang-barang modal atau investasi (I). Barang modal yang dimaksud di antaranya gedung, pabrik, jalan, alat angkut, mesin, dan barang konsumsi persediaan.
Dengan demikian pendapatan / income nasional dari pihak produsen
dapat dirumuskan sebagai berikut.
Keterangan:
Y = tingkat pendapatan
C = tingkat konsumsi
I = tingkat investasi
Y = tingkat pendapatan
C = tingkat konsumsi
I = tingkat investasi
Dari kedua rumus tersebut dapat dianalisis, apabila nilai Y tetap dan terjadi peningkatan nilai C, maka hal ini berarti menurunkan nilai S sebesar kenaikan C. Sementara itu apabila I meningkat dan C tetap, maka dapat dipastikan Y nilainya naik. Dengan demikian S nilainya juga meningkat, masingmasing sebesar kenaikan I. Jadi, dapat disimpulkan bahwa besarnya I selalu diikuti oleh besarnya S, atau dapat dikatakan besarnya S sama dengan besarnya I. Bila ditulis akan didapat rumus berikut ini.
3. Cara Penghitungan
Pendapatan “income” Nasional
Dalam penghitungan pendapatan income nasional suatu negara dikenal beberapa konseppendapatan nasional, konsep konsep ini di antaranya sebagai berikut.
Dalam penghitungan pendapatan income nasional suatu negara dikenal beberapa konseppendapatan nasional, konsep konsep ini di antaranya sebagai berikut.
a. Konsep Gross Domestic Product (GDP) atau konsep Produk Domestik Bruto (PDB) adalah jumlah seluruh produksi yang dihasilkan masyarakat, baik masyarakat asing yang berada di dalam negeri, maupun masyarakat nasional dalam waktu satu tahun secara nasional.
b. Konsep Gross National Product (GNP) atau konsep Produk Nasional Bruto (PNB) adalah jumlah seluruh produk yang dihasilkan oleh masyarakat nasional suatu negara tanpa menghitung produk yang dihasilkan oleh masyarakat asing di dalam negeri dalam waktu satu tahun secara nasional.
c. Konsep Nett National Product (NNP) atau konsep Produk Nasional Bersih adalah GNP setelah dengan penyusutan dan perbaikan barang modal.
d. Konsep Net National Income (NNI) atau konsep Pendapatan “income” Nasional Bersih adalah NNP setelah dikurangi pajak tidak langsung, yang merupakan pendapatan ‘income’ nasional yang dihitung berdasarkan balas jasa yang diterima para pemilik faktor produksi.
e. Konsep Personal Income (PI) atau
konsep pendapatan perseorangan adalah NNI dikurangi dengan dana
sosial, pajak perusahaan, laba yang ditahan dan ditambah transfer payment
pemerintah. Transfer payment (pembayaran tambahan) yang merupakan pendapatan
yang diterima oleh masyarakat atau rumah tangga.
f. Konsep Disposible Income (DI) atau konsep pendapatan yang siap dibelanjakan adalah pendapatan yang benar-benar diterima oleh masyarakat dan siap untuk dibelanjakan.
DI dipergunakan untuk
dua sektor, yaitu:
– saving (tabungan) adalah pendapatan yang tidak dikonsumsi,
– consumption (konsumsi) adalah pendapatan yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau seseorang.
– saving (tabungan) adalah pendapatan yang tidak dikonsumsi,
– consumption (konsumsi) adalah pendapatan yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau seseorang.
Besar DI yaitu PI dikurangi pajak langsung/pajak personal/ pajak perseorangan.
Untuk memberikan gambaran tentang penghitungan pendapatan
“income” nasional, di bawah ini diberikan contoh cara menghitung pendapatan
(income) nasional pada suatu negara. Angka berikut hanya merupakan contoh saja,
agar memudahkan cara berpikir.
Untuk lebih memperjelas gambaran tentang besarnya PDB nasional
negara Indonesia, berikut ini disajikan data pertumbuhan PDB dari tahun 1999
sampai dengan 2004.
Contoh
Laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto secara nasional atas dasar harga
konstan 1993 menurut lapangan usaha tahun 1999–2004 (persen). Sumber: BPS,
Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2004 (data diolah dalam persen).
Catatan: *) Angka sementara. **) Angka sangat sementara.
|
4. Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto merupakan produksi yang dihasilkan oleh suatu masyarakat yang berada di daerah/regional tertentu dalam kurun waktu 1 tahun. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator ekonomi nasional yang memuat berbagai instrumen ekonomi yang di dalamnya terlihat dengan jelas keadaan makro ekonomi suatu daerah dengan pertumbuhan ekonominya, pendapatan per kapita, dan berbagai instrumen lainnya.
Produk Domestik Regional Bruto merupakan produksi yang dihasilkan oleh suatu masyarakat yang berada di daerah/regional tertentu dalam kurun waktu 1 tahun. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator ekonomi nasional yang memuat berbagai instrumen ekonomi yang di dalamnya terlihat dengan jelas keadaan makro ekonomi suatu daerah dengan pertumbuhan ekonominya, pendapatan per kapita, dan berbagai instrumen lainnya.
Dengan adanya
data-data tersebut akan sangat membantu pengambil kebijakan dalam perencanaan
dan evaluasi sehingga pembangunan tidak salah arah. Angka PDRB sangat
dibutuhkan dan perlu disajikan, karena selain dapat dipakai sebagai bahan
analisis perencanaan pembangunan juga merupakan barometer untuk mengukur
hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan. Untuk memberikan gambaran
lebih jelas tentang Produk Domestik Regional Bruto, berikut ini disajikan PDRB
untuk Kota Semarang.
5. Distribusi
Pendapatan ‘income’ Nasional
Distribusi pendapatan (income) nasional merupakan unsur penting untuk mengetahui tinggi rendahnya kesejahteraan atau kemakmuran suatu negara. Distribusi pendapatan yang merata kepada masyarakat secara nasional akan mampu menciptakan perubahan dan perbaikan, seperti peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional, pengentasan kemiskinan nasional, mengurangi pengangguran nasional, dan sebagainya. Sebaliknya distribusi pendapatan yang tidak merata perubahan atau perbaikan suatu negara tidak akan tercapai. Hal seperti inilah yang akan menunjukkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan.
Distribusi pendapatan (income) nasional merupakan unsur penting untuk mengetahui tinggi rendahnya kesejahteraan atau kemakmuran suatu negara. Distribusi pendapatan yang merata kepada masyarakat secara nasional akan mampu menciptakan perubahan dan perbaikan, seperti peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional, pengentasan kemiskinan nasional, mengurangi pengangguran nasional, dan sebagainya. Sebaliknya distribusi pendapatan yang tidak merata perubahan atau perbaikan suatu negara tidak akan tercapai. Hal seperti inilah yang akan menunjukkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan.
Berikut adalah data penduduk miskin perkotaan dan pedesaan di
Indonesia.
Contoh
Grafik tentang data penduduk miskin (kota & desa) secara nasional tahun 1996–2005.
Sumber: Susenas |
Pendapatan Perkapita
Pendapatan perkapita adalah besarnya
pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan perkapita didapatkan
dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan
jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan perkapita juga merefleksikan PDB
perkapita.
Pendapatan per kapita (per
capita income) adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu negara pada suatu
periode tertentu, yang biasanya satu tahun. Pendapatan per kapita bisa juga
diartikan sebagai jumlah dari nilai barang dan jasa rata-rata yang tersedia
bagi setiap penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu. Pendapatan per
kapita diperoleh dari pendapatan nasional pada tahun tertentu dibagi dengan
jumlah penduduk suatu negara pada tahun tersebut.
Pendapatan perkapita
sering digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah
negara; semakin besar pendapatan perkapitanya, semakin makmur negara tersebut.
Konsep pendapatan nasional
yang biasa dipakai dalam menghitung pendapatan per kapita pada umumnya adalah
Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atau Produk Nasional Bruto (PNB). Dengan
demikian, pendapatan per kapita dari suatu negara dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
Contoh:
Negara x pada tahun t memiliki produk domestik bruto sebesar US $ 1.000.000.000,00 dan jumlah penduduk sebanyak 10.000.000 jiwa. Berapa pendapatan per kapita negara x pada tahun t?
Negara x pada tahun t memiliki produk domestik bruto sebesar US $ 1.000.000.000,00 dan jumlah penduduk sebanyak 10.000.000 jiwa. Berapa pendapatan per kapita negara x pada tahun t?
Jawab:
PNB perkapita negara x pada tahun t adalah:
PNB perkapita negara x pada tahun t adalah:
Hal ini terjadi, karena di
dunia yang arus globalisasinya semakin gencar, kejadian atau masalah yang
terjadi di suatu negara atau kawasan tertentu akan berdampak pula pada negara
lainnya.
Pertumbuhan PNB riil per
kapita di suatu negara atau di suatu kawasan, tidak bisa dipisahkan dari
pertumbuhan ekonomi negara atau kawasan yang bersangkutan. Coba saja Anda
bandingkan tabel 1.3 dan tabel 1.4 di bawah ini. Apa yang Anda bisa simpulkan?
Dari perbandingan tabel
1.3 dan tabel 1.4 bisa diambil kesimpulan, bahwa pertumbuhan ekonomi suatu
negara berbanding lurus dengan pertumbuhan PNB riil per kapita. Apabila
pertumbuhan ekonominya naik, maka pertumbuhan PNB riil per kapita juga naik.
Tentunya hal tersebut sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan pendapatan nasional
dan pertumbuhan jumlah penduduknya.
Selanjutnya tentu Anda
bertanya-tanya, untuk apa sih perhitungan pendapatan per kapita ini di
pelajari? Coba Anda jawab sendiri lalu bandingkan dengan manfaat pendapatan per
kapita di bawah ini.1. Mengetahui perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu negara.
2. Mengetahui perkembangan tingkat kesejahteraan di berbagai negara.
3. Dapat mengelompokkan suatu negara berdasarkan pengelompokkan Bank Dunia.
4. Dapat memperkirakan syarat yang harus dipenuhi oleh suatu negara dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.
Untuk Anda sendiri, kira-kira manfaat apa yang dapat diperoleh dari mempelajari pendapatan per kapita ini? Saya yakin banyak jawaban yang bisa muncul. Minimal Anda dapat menggunakan cara menghitung pendapatan per kapita untuk anggota keluarga Anda sendiri.
Cobalah Anda ikuti langkah berikut ini!
a. Tanyakan pada orang tua Anda berapa rata-rata penghasilannya tiap bulan, lalu kalikan 12, untuk mencari penghasilan setahun.
b. Hitung jumlah anggota keluarga Anda.
c. Penghasilan setahun (a) dibagi jumlah anggota keluarga (b), hasilnya adalah pendapatan per kapita dari keluarga Anda.
d. Bandingkan pendapatan per kapita keluarga Anda dengan pendapatan perkapita Indonesia.
Berapa hasilnya? Anda tentu telah mengikuti langkah-langkah di atas dan hasilnya telah Anda ketahui. Jika hasilnya lebih tinggi berarti pendapatan per kapita keluarga Anda ada di atas rata-rata pendapatan penduduk Indonesia. Begitupun sebaliknya, bila hasilnya lebih kecil tentu pendapatan perkapita keluarga Anda berada di bawah rata-rata pendapatan nasional!
Menurut Adam Smith, ada tiga tugas pemerintahan suatu negara terhadap masyarakatnya.
1. Melindungi masyarakat dari serangan pihak luar
2. Melindungi masyarakat dari ketidakadilan atau gangguan masyarakat lain.
3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Khusus menyangkut peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemerintah Indonesia khususnya berusaha mencapainya dengan pembangunan di berbagai sektor. Hasil pembangunan diharapkan dapat meningkatkan output berupa barang dan jasa yang berkualitas serta dalam jumlah yang meningkat. Dari sinilah diharapkan akan adanya peningkatan pendapatan nasional yang merupakan cikal bakal peningkatan pendapatan per kapita.
Apakah tingginya pendapatan per kapita suatu negara betul–betul dapat menjamin kemakmuran rakyatnya?
Jawabannya belum tentu. Sebab, bisa saja tingginya pendapatan per kapita itu dihasilkan oleh tingginya pendapatan nasional dari sebagian kecil penduduk suatu negara. Jadi masalahnya terletak pada distribusi pendapatan nasional itu sendiri. Bila sebagian besar masyarakat suatu negara memperoleh pendapatan yang cukup tinggi, maka pendapatan per kapita bisa dijadikan sebagai tolak ukur kemakmuran rakyat suatu negara.
Sementara itu, pembangunan ekonomi (economic
development) yaitu pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan
perubahan dalam struktur ekonomi dan corak kegiatan ekonomi atau usaha guna
untuk pertumbuhan ekonomi (economic growth) yaitu perkembangan
kegiatan dalam perekonomian yang mengakibatkan barang dan jasa yang diproduksi
dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat menin gkat dalam jangka
panjang.
Pertumbuhan ekonomi tersebut adalah salah
satu indikator yang sebenarnya, pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan
ekonomi secara fisik yang terjadi di suatu negara, seperti pertambahan jumlah
dan produksi barang industri, perkembangan infrastruktur, pertambahan jumlah
sekolah, perkembangan barang manufaktur, dan sebagainya. keberhasilan
pembangunan.
Dalam kegiatan ekonomi meningkatkan pendapatan
per kapita dengan jalan mengolah kekuatan ekonomi potensial menjadi ekonomi
riil melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan,
peningkatan keterampilan, serta penambahan kemampuan berorganisasi dan
manajemen.
Contoh Pertumbuhan
Ekonomi
- Adanya pembangunan pabrik-pabrik besar dan pembangkit
listrik
- Indonesia
menjalin kerjasama ekonomi dgn beberapa negara
- Iegara
Indonesia melakukan ekspor ke beberapa negara
- Indonesia
bergabung dgn beberapa organisasi ekonomi dunia
- Beberapa
produk hsil Indonesia menjadi produk unggulan di beberapa negara
·
Pajak adalah iuran wajib yang dibayar
oleh wajib pajak berdasarkan norma-norma hukum untuk membiayai pengeluaran
kolektif guna meningkatkan kesejahteraan umum yang balas jasanya tidak diterima
secara langsung.
·
Secara menyeluruh pengelompokan
pajak dilakukan berdasarkan tiga faktor yaitu sebagai berikut:
1. Berdasarkan Pihak Yang Menanggung
Berdasarkan pihak yang
menaggung, pajak dibedakan menjadi pajakk langsung dan pajak tidak langsung.
a. Pajak Langsung
Pajak langsung adalah pajak yang pembayarannya
harus di tanggung sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dialihkan kepada
pihak lain. Pajak langsung merupakan pajak yang dikenakan terhadap wajib pajak
pribadi atau perorangan dan badan yang harus dibayar secara periodik
berdasarkan surat ketetapan pajak. Contohnya Pajak Penghasilan (PPH) dan Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB).
b. Pajak
Tidak Langsung
Pajak tidak langsung adalah pajak
yang pembayarannya dapat dialihkan kepada pihak lain. Pajak tidak
langsung merupakan pajak yang dikenakan terhadap setiap perbuatan atau peristiwa
ekonomi dan dipungut tanpa surat ketetapan pajak. Contoh pajak tidak langsung
adalah Pajak Penjualan(PPn), Pajak Pertambahan Nilai ( PPN), Bea Materai, dan
Cukai.
2.Berdasarkan Pihak Yang
Memungut
Berdasarkan pihak yang
memungut, pajak dibedakan menjadi pajak negara dan pajak daerah.
a. Pajak Negara
Pajak negara atau pajak pusat adalah pajak
yang dipungut pemerintah pusat. Pajak pusat merupakan salah satu sumber
penerimaan negara yang akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Pajak pusat
diatur dalam suatu peraturan yang disebut undang-undang tentang perpajakan
nasional. Pelaksanaan pemungutannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Contoh pajak negara adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penghasilan
(PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjalan (PPn), dan Bea Materai
b. Pajak Daerah
Pajak daerah pajak yang dipungut oleh
pemerintah daerah. Pajak daerah merupakan salah satu sumber
penerimaan pemerintah daerah. Setiap daerah mempunyai objek pajak
tersendiri. Hal ini sesuai dengan peraturan daerah masing-masing. Pajak daerah
diatur dalam suatu peraturan yang disebut peraturan
daerah (PERDA).Pelaksanaa pemungutannya dilakukan oleh Dinas
Pendapatan Daerah. Contoh pajak daerah adalah iuran kebersihan, retribusi masuk
terminal, pajak tontonan, pajak reklame retribusi parkir, dan retribusi galian
pasir.
3. Berdasarkan sifatnya
Berdasarkan sifatnya, pajak
dibedakan menjadi pajak subjektif dan pajak objektif.
a Pajak subjektif
Pajak Subjektif adalah pajak ysng
memperhatikan kondisi/keadaan wajib pajak. Dalam hal ini penentuan besarnya
pajak harus ada alasan objektif yang berhubungan erat dengan kemammpuan
membayar wajib pajak. Jenis pajak yang termasuk pajak subjektif
ialah Pajak Penghasilan (PPh).
b. Pajak Objektif
Pajak objektif adalah pajak yang berdasarkan
pada objeknya tanpa memperhatikan keadaan wajib pajak. Jenis pajak yang
termasuk dalam pajak objektif adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi
dan Bangunan (PBB), dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn-BM).
·
Dalam perekonomian yang telah
mengenakan pajak, perhubungan diantara pendapatan disposibel dan pendapatan
nasional dapat dinyatakan secara berikut:
·
Pendapatan disposibel (Yd) =
Pendapatan nasional (Y) – Pajak (T)
·
Penurunan pendapatan disposebel
akan mengurangi konsumsi dan tabungan rumah tangga. Hal ini disebabkan karena
pajak yang dibayarkannya mengurangi kemampuannya untuk melakukan pengeluaran
konsumsi dan menabung. Pajak yang dipungut akan mengurangi pendapatan
disposibel sebanyak pajak yang dipungut. Penurunan pendapatan disposibel
menyebabkan pengeluaran konsumsi dan tabungan rumah tangga akan berkurang pada
berbagai tingkat pendapatan. Walaupun bentuk sistem pajak yaitu pajak tetap
pemungutan pajak akan mengakibatkan konsumsi dan tabungan rumah tangga
berkurang sebanyak yang ditentukan oleh persamaan berikut:
ΔC=MPCxT
ΔS = MPS x T
Pajak
yang diterima pemerintah akan digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan
pemerintah. Dinegara-negara yang sudah sangat maju, Pajak adalah sumber utama
dari pembelanjaan pemerintah, sebagian dari pengeluaran pemerintah adalah untuk
membiayai administrasi pemerintahan dan untuk membiayai kegiatan-kegiatan
pembangunan, membayar gaji pegawai-pegawai pemerintah, membiayai sistem
pendidikan dan kesehatan rakyat, membiayai pembelanjaan untuk angkatan
bersenjata dan membiayai berbagai jenis infrastruktur yang penting artinya
dalam pembangunan adalah beberapa bidang penting yang akan dibiayai pemerintah.
Penentu-Penentu
Pengeluaran Pemerintah
a. Proyeksi jumlah pajak
yang di terima: Dalam menyusun anggaran belanja pemerintah harus terlebih
dahulu membuat proyeksi mengenai jumlah pajak yang akan diterimanya. Makin
banyak jumlah pajak yang akan dapat di kumpulkan, makin banyak pula
perbelanjaan pemerintah yang akan di lakukan.
b. Tujuan-tujuan ekonomi
yang ingin dicapai: Mengatasi masalah pengangguran, menghidari inflasi dan
mempercepat pembangunan ekonomi. Untuk mempercepat kegiatan tersebut seringkali
membelanjakan uang yang lebih besar dari pendapatan yang di peroleh oleh pajak.
c. Pertimbangan politik
dan keamanan: Pertimbangan-pertimbangan politik dan kestabilan negara selalu
menjadi salah satu tujuan penting dalam menyusun anggaran belanja pemerintah.
Kekacauan politik, keamanan. Keadaan seperti itu akan menyebabkan kenaikan
perbelanjaan pemerintah yang sangat besar.
Pendapatan
Keseimbangan,
Y = C + I + G
S + T = I + G
Keterangan :
Y =pendapatan nasional
T =Pajak
C = konsumsi
I = investasi
G = pengeluaran pemerintah
S = saving
Contoh :
Diketahui C0 atau a = 50. MPC =
0.75. I=Io=20. G=15
Ditanya tentukan keseimbangan
pendapatan nasional :
Dijawab : Y = C + I + G
C = 50 + 0.75Y
I = 20
G = 15
Y = 50 + 0.75Y + 20 + 15
Y = C + I + G = 85 + 0.75Y
0.25Y = 85
syarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomi
: 1. Indegenous forces
(kekuatan dari dalam) utk berkembang.
2. Mobilitas faktor-faktor produksi
3.
Akumulasi capital
4. Kriteria atau arah investasi yang sesuai
dengan kebutuhan
5. Penyerapan capital
6. Stabilitas dan nilai serta lembaga- lembaga
yang ada
INDEGENOUS FORCES (KEKUATAN
DARI DALAM) UTUK BERKEMBANG Ø
Merupakan kekuatan yang ada dalam masyarakat itu sendiri untuk berkembang
(Suparmoko: 2008, 260). Ø
Misalnya: Bantuan luar negeri belum tentu menjamin terus berkembangnya
perekonomian. Prakarsa dan pengaturan lembaga- lembaga masyarakat untuk
perkembangan harus tumbuh dari masyarakat sendiri
MOBILITAS FAKTOR-FAKTOR
PRODUKSI Ø Ketidaksempurnaan pasar
(market imperfections) akan sangat membatasi mobilitas faktor-faktor produksi
dari penggunaan yang kurang produktif ke penggunaan yang lebih produktif. Ø Untuk mengatasi market
imperfections maka market imperfection harus ditiadakan sehingga faktor
produksi dapat digunakan sepenuhnya
MOBILITAS FAKTOR-FAKTOR
PRODUKSI Usaha Menghilangkan Market Imperfections :
a. Mengganti
bentuk-bentuk organisasi sosial dan ekonomi
b. Memberikan kesempatan-kesempatan untuk
produktivitas pada tingkat teknik yang
c. Penjualan produk diperluas
d. Keadaan monopoli
harus dikurangi
e. Pasar kapital diperluas
f. Kredit dipermudah bagi petani-petani dan
pedagang kecil untuk perkembangan ekonomi.
AKUMULASI KAPITAL Ø Akumulasi kapital
(capital accumulation) terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan
diinvestasikan dengan tujuan memperbesar output dan pendapatan di kemudian
hari. (Todaro: 1999, 124)
Akumulasi dapat berwujud kenaikan dalam volume
tabungan riil, sehingga sumber-sumber uang yang semula untuk tujuan-tujuan konsumtif
dapat diarahkan untuk tujuan-tujuan produktif Incremental Capital Output Ratio
(ICOR) ICOR merupakan Tambahan setiap modal dibandingkan dengan tambahan
hasil/output.
COR (Capital Output Ratio): Perbandingan
antara kapital yang diperlukan dengan rasio yang ingin dicapai ICOR = ΔK/ ΔY
ΔK: Penambahan Modal ΔY: Penambahan Pengeluaran.
Pertimbangan dalam mengukur
banyaknya kapital yang dibutuhkan bagi perkembangan ekonomi: a. Perkiraan
tingkat pertambahan penduduk b. Target kenaikan pendapatan riil per kapita c.
Angka rasio pertambahan antara investasi dan output atau Incremental Capital
Output Ratio (ICOR) AKUMULASI KAPITAL Faktor-faktor yang mempengaruhi ICOR:
1. Sumber daya alam
2. Industri – industri
3.
Teknologi baru
4. Kepadatan penduduk
5. Investasi
6.
Kebijaksanaan pemberian pekerjaan
EXAMPLE:
Produk nasional pada saat ini adalah 1000 dan tingkat tabungan (rate of saving)
adalah 8%, sedangkan ICOR sebesar 4. Hitunglah laju perkembangannya (rate of
growth)? Domestic saving = rate of saving x produk nasional = 8% x 1000 = 80
(investasi) Kenaikan hasil produksi nasional = investasi/ICOR = 80/4 = 20 Maka
Laju Perkembangannya = kenaikan hasil produksi nasional Produksi Nasional =
20/1000 = 2%
a.
Tingkat saving dinaikkan dengan membatasi konsumsi, misalnya : pajak
b. Pemerintah menjual obligasi negara
c. Pembatasan impor barang konsumsi hingga barang kapital
(Alat-alat produksi)
d. Dengan menargetkan inflasi
e. Memindahkan pengangguran tersembunyi (disguised unemployment)
dari sektro pertanian ke sektor industri dan jasa
.f. Memperluas sektor perdagangan internasional dengang
menaikkan TOT (Term
of trade) hingga peminjaman capital
KRITERIA DAN ARAH INVESTASI Karena kriteria Investasi bersifat
dinamis, yang perlu diperhatikan dalam kriteria umum adalah: o Investasi harus
ditempatkan sedemikian rupa sehingga memaksimalkan perbandingan antara output
dan kapital (COR rendah).
Proyek yang dipilih harus memberikan
perbandingan yang memaksimalkan penggunaan tenaga kerja terhadap investasi. o
Investasi hendaknya mampu mengurangi Neraca Pembayaran Internasional sehinga
memaksimumkan perbandingan ekspor dan investasi Faktor yang perlu diperhatikan
pada investasi produktif:
1. Pendapatan per
kapita
2. Pendapatan nasional
3. Faktor waktu
4. Kepentingan
maasyarakat
5. Unsur pasar
6.
Titik pertumbuhan
7.
Pertumbuhan seimbang
8.
Teknik produksi
·
PENYERAPAN
KAPITAL DAN STABILITAS Kemampuan penyarapan kapital (capital absorption
capacity) dikarenakan oleh:
Ketersediaan
faktor produksi komplementer yang bekerja sama dengan
capital
Syarat
yang diperlukan untuk menghindari inflasi dan untuk mempertahankan keseimbangan
neraca pembayaran internasional
Keterbatasan
pada kapasitas menyerap kapital di NSB:
a.
Kurangnya teknologi
b.Kurangnya
tenaga ahli
c.
Kurangnya mobilitas faktor produksi
d.Kurangnya
tenaga kerja terampil
·
NILAI
DAN LEMBAGA-LEMBAGA YANG ADA
Nilai dan Lembaga disini bersifat nonekonomi o
Perkembangan ekonomi dapat melaju cepat bila diciptakan kebutuhan- kebutuhan
baru, motif-motif baru, cara/metode produksi baru, demikian pula harus ada
perubahan lembaga- lembaga yang ada dalam masyarakat. o Kriteria ekonomi dan
investasi saja tidak cukup digunakan sebagai patokan kebijaksanaan investasi.
Untuk menggunakan mesin-mesin yang kompleks, dibutuhkan orang kreatif, dan
berpengaruh umum.
Teori
Perdagangan Internasional
Saat
ini perdagangan internasional bukan hanya bermanfaat untuk bidang ekonomi saja
melainkan bermanfaat untuk bidang lain seperti politik, sosial, dan pertahanan
keamanan. Beberapa model atau teori
perdagangan internasional yang ada:
a. Teori Merkantilisme (Mirabeau)
Teori Merkantilisme, yaitu paham yang mengajarkan bahwa kemakmuran perekonomian suatu negara dengan memaksimalkan surplus perdagangan. Teori Merkantilisme mempunyai prinsip:
- Mencari
logam mulia sebanyak-banyaknya
- Mengusahakan
neraca perdagangan aktif
- Monopoli
perdagangan
- Memperluas
daerah jajahan
- Membatasi
impor dan meningkatkan ekspor
b. Teori Keuntungan Mutlak (Adam Smith)
Teori Keuntungan Mutlak berdasarkan pada pembagian kerja internasional yang menimbulkan spesialisasi dan efisiensi produksi dalam menghasilkan suatu barang. Teori keuntungan mutlak mempunyai prinsip:
Teori Keuntungan Mutlak berdasarkan pada pembagian kerja internasional yang menimbulkan spesialisasi dan efisiensi produksi dalam menghasilkan suatu barang. Teori keuntungan mutlak mempunyai prinsip:
- Kemampuan
negara untuk mengembangkan produksi melalui perdagangan.
- Macam
keuntungan ada dua, yaitu karena ilmiah dan teknologi.
- Dalam
perdagangan, masing-masing negara akan mengadakan spesialisasi kerja pada
produksi yang mempunyai keunggulan mutlak, yaitu jam kerja per hari yang
paling kecil.
c. Teori Keuntungan Komparatif (David Ricardo)
Teori Keuntungan Komparatif berdasarkan pada perbandingan biaya yang dikeluarkan suatu negara dalam memproduksi suatu barang dibandingkan dengan negara lain sehingga negara dengan biaya rendah akan mengimpor dan negara dengan biaya yang tinggi mengekspor barang tersebut.
Teori Keuntungan Komparatif berdasarkan pada perbandingan biaya yang dikeluarkan suatu negara dalam memproduksi suatu barang dibandingkan dengan negara lain sehingga negara dengan biaya rendah akan mengimpor dan negara dengan biaya yang tinggi mengekspor barang tersebut.
d.
Teori Permintaan Timbal Balik (John Stuart Mill)
Teori Permintaan Timbal Balik sebenarnya kelanjutan dari Teori Keunggulan Komparatif yaitu melakukan kesimbangan antara permintaan dengan penawaran. Hal ini disebabkan baik itu permintaan maupun penawaran menentukan besarnya barang yang akan diekspor dan barang yang akan diimpor.
Teori Permintaan Timbal Balik sebenarnya kelanjutan dari Teori Keunggulan Komparatif yaitu melakukan kesimbangan antara permintaan dengan penawaran. Hal ini disebabkan baik itu permintaan maupun penawaran menentukan besarnya barang yang akan diekspor dan barang yang akan diimpor.










Komentar
Posting Komentar