PENGERTIAN ILMU EKONOMI ,EKONOMI MAKRO,DAN MIKRO EKONOMI


MAKALAH
ILMU EKONOMI


                                              


NAMA        : FERONIKA L SIHOMBING
NIM             : 041602503125162
JURUSAN     : AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA













KATA PENGANTAR
Puji Syukur dipanjatkan kehadirat TUHAN Yang Maha Esa, oleh karena berkat dan tuntunanNya, sehingga kami diberi kesempatan untuk menyusun makalah yang berjudul “ILMU EKONOMI” siap pada waktunya.

Makalah ini diajukan sebagai salah satu tugas pada mata kuliah “ Ekonomi Makro.”
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun mengalami banyak kendala, hambatan, dan kesulitan. Namun, berkat pertolongan TUHAN Yang Maha Esa serta dorongan dan bantuan semua pihak, sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan yang ada. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat kami harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini, sebagai tambahan wawasan untuk menggapai keberhasilan.

Kiranya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, dan atas perhatian dan kerja sama yang baik, diucapkan terima kasih.


Bekasi,10 Juli 2017
Penyusun,


Feronika L Sihombing




    Pada dasarnya, ilmu ekonomi termasuk ilmu sosial karena aspek penelitian dan pembahasannya menyangkut masalah manusia dan aktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun, dalam kenyataannya ilmu ekonomi ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu matematika dan statistik. Berdasarkan lingkup kekhususannya, ilmu ekonomi terbagi dalam dua golongan, yakni Ilmu ekonomi Makro dan Ilmu Ekonomi Mikro. Apa perbedaan antara keduanya? Ikuti ulasannya berikut ini:

IImu ekonomi makro (macro economics)

       IImu ekonomi makro pada dasarnya bertujuan mempelajari tingkat keseluruhan ekonomi, seperti total tingkat kebutuhan keluarga, tingkat pendapatan nasional, jumlah keseluruhan lapangan kerja, dan tingkat harga umum dalam perekonomian. Jadi, pengertian ilmu ekonomi makro (macro economics) adalah ilmu ekonomi yang mengkhususkan untuk mempelajari perilaku masyarakat luas dalarn memenuhi kebutuhannya secara menyeluruh. Aspek analisisnya, antara lain, meliputi berbagai masalah yang berkaitan dengan: 

·         pendapatan nasional,
·         investasi,
·         kesernpatan kerja,
·         inflasi, dan
·         neraca pembayaran.

Dalam perkembangannya, ilmu ekonomi makro berkaitan pula dengan masalah ekonomi publik (negara), ekonomi moneter, ekonomi pembangunan, dan sebagainya.

IImu ekonomi mikro (micro economics) 
Ilmu ekonomi mikro pada dasarnya mempelajari perilaku ekonomi dari satuanpenqambilan keputusan individu, seperti konsumen, pemilik sumber daya, dan perusahaan-perusahaan dalam perekonomian bebas usaha. Jadi, pengertian ilmu ekonomi mikro (micro economics) adalah ilmu ekonomi yang mengkhususkan untuk mempelajari perilaku individu manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Aspek analisisnya meliputi: 

  • analisis biaya dan manfaat,
  • teori permintaan dan penawaran,
  • elastisitas,
  • model-model pasar,
  • industri,
  • teori produksi, dan
  • teori harga.
Pengembangan ilmu ekonomi mikro, antara lain, melahirkan teori-teori dan konsep-konsep yang berkaitan dengan ekonomi manajerial, ekonomi lingkungan, ekonomi regional, dan ekonomi sumber daya alam.


 Masalah Pokok Pembangunan Ekonomi

Pada dasarnya tujuan dari suatu negara melaksanakan pembangunan adalah untuk mengatasi atau keluar dari masalah-masalah yang selama ini dihadapi. Setidaknya ada tiga masalah pokok yang dihadapi oleh suatu negara, terutama negara sedang berkembang dan negara terbelakang yaitu kemiskinan, ketimpangan dalam distribusi pendapatan, dan pengangguran.

a. Kemiskinan
       Masalah kemiskinan merupakan masalah bagi setiap negara. Masalah kemiskinan mendorong setiap negara untuk melakukan pembangunan. Masalah kemiskinan ini harus diatasi karena memiliki dampak yang sangat luas bagi kehidupan seseorang ataupun suatu bangsa, baik dari dimensi ekonomi maupun nonekonomi.

b. Ketimpangan dalam distribusi pendapatan
    Masalah kemiskinan seringkali dihubungkan dengan masalah ketidakmerataan distribusi pendapatan. Pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus tidak selalu dapat mengurangi tingkat kemiskinan atau pertumbuhan ekonomi tidak berkorelasi positif dengan distribusi pendapatan. Ketimpangan distibusi pendapatan membuat jurang si kaya dan si miskin semakin curam yang mengakibatkan terjadinya kecemburuan sosial dan berpotensi untuk memicu terjadinya berbagai tindakan kriminal.

c. Pengangguran 
    Masalah pengangguran merupakan masalah pokok dan bersifat jangka panjang yang harus dihadapi oleh suatu negara. Sekalipun suatu negara memiliki pengangguran sama dengan nol atau negatif, belum tentu negara tersebut tidak memiliki masalah pengangguran karena pengangguran itu sendiri memiliki banyak kategori.

d. Inflasi
    Terjadinya kemerosotan nilai uang akibat jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga memicu kenaikan harga barang-barang akan berdampak pada menurunnya pendapat riil orang-orang yang berpenghasilan tetap sehingga daya belinya ikut menurun. Penurunan daya beli masyarakat akan berdampak pada dunia usaha, karena perusahaan akan mengurangi kapasitas peroduksinya, atau bahkan menghentikan produksinya. Akibatnya terjadi PHK yang akan meningkatkan jumlah pengangguran. Inflasi yang tinggi juga membawa dampak pada meningkatnya suku bunga, yang akan membuat perbankan terpuruk. Itulah mengapa inflasi termasuk ke dalam masalah pokok pembangunan, sebab inflasi yang meningkat tajam akan menganggu kestabilan perekonomian nasional.


  Top of FormBottom of FormTop of Form1. Metode Penghitungan Pendapatan secara nasional / Produksi Nasional
       Pendapatan income” nasional dapat dihitung sesuai data yang terkumpul dari fakta yang ada di masyarakat. Penghitungan pendapatan (income) nasional harus dilakukan secara cermat dan akurat karena sangat penting artinya bagi masyarakat. Ada tiga pendekatan dalam menghitung pendapatan produksi nasional, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Marilah kita membahas masing-masing pendekatan tersebut lebih mendalam.

a. Pendapatan (income) Nasional dari Pendekatan Produksi (Product Approach)
       Dengan pendekatan produksi secara nasional , pendapatan / income nasional dilakukan dengan cara mengumpulkan data tentang hasil akhir barang-barang dan jasa-jasa untuk suatu periode tertentu dari semua unit produksi yang menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa tersebut. Jadi pendapatan (income) nasional menurut pendekatan produksi adalah jumlah nilai tambah semua barang dan jasa selama satu tahun secara nasional. Barang dan jasa yang dimaksud adalah barang terakhir (final goods) atau barang jadi (finished goods), artinya barang yang langsung dapat diterima konsumen.penghitungan.

b. Pendapatan ‘income’ Nasional dari Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
       Ditinjau dari pendekatan pendapatan secara nasional , penghitungan pendapatan income nasional dilakukan dengan cara mengumpulkan data pendapatan yang diperoleh oleh rumah tangga keluarga. Atau dengan cara menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh pemilik faktor produksi dalam suatu masyarakat secara nasional selama satu tahun secara nasional. Pendapatan ini berupa sewa, upah dan gaji, bunga, dan laba usaha.

c. Pendapatan “income” Nasional dari Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)
     Ditinjau dari pendekatan pengeluaran secara nasional , penghitungan pendapatan / income nasional dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh masyarakat dalam perekonomian, sektor konsumen, perusahaan (investasi), pemerintah dan sektor perdagangan luar negeri. Atau dengan cara menjumlahkan seluruh pengeluaran/belanja masyarakat dalam kurun waktu satu tahun secara nasional.

2. Komponen pada Pendapatan “income” Nasional
     Oleh karena penentuan pendapatan (income) nasional suatu negara dihitung melalui tiga pendekatan yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran, maka komponen yang diperhitungkan dalam pendapatan ‘income’ nasional juga terdapat perbedaan.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini diuraikan komponen pendapatan /income nasional yang ditinjau dari tiga sisi.


a. Komponen pada Pendapatan “income” Nasional dari Sisi Produksi
Sebagaimana kamu ketahui, penghitungan pendapatan ‘income’ nasional dengan metode produksi dilakukan dengan menjumlahkan nilai tambah semua barang-barang dan jasa-jasa. Ambil saja contoh produk ke-1 ditandai dengan Q1, produk ke-2 ditandai Q2, maka produk ke-n ditandai dengan Qn. Dan bila produk tersebut dijual kepada konsumen, maka harga jual produk ke-1 ditandai dengan P1, harga produk ke-2 ditandai dengan P2, dan harga produk ke-n ditandai dengan Pn, Dari berbagai identifikasi kompopnen di atas akan dihasilkan bentuk persamaan sebagai berikut.
http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/1-30-2013-5-26-53-PM.png
Jadi komponen pada pendapatan (income) nasional dari sisi produksi, yaitu: macam produk, jumlah produk yang terjual dari berbagai macam produk, dan harga jual produk. Secara singkat dapat dirumuskan sebagai berikut.
http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/1-30-2013-5-29-25-PM.png
Keterangan:
PN= pendapatan /income nasional
Pn = harga jual suatu produk
Qn = hasil produksi

Contoh penghitungan nilai tambah produksi secara nasional tampak pada tabel berikut ini.
http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/1-30-2013-5-31-08-PM.png

b. Komponen pada Pendapatan ‘income’ Nasional dari Sisi Pengeluaran
     Dari sisi pengeluaran, pendapatan “income” nasional dihitung dengan menjumlahkan pengeluaran (expenditure) masing-masing sektor perekonomian berikut ini.

1) Sektor keluarga atau sektor konsumen Pengeluaran yang dilakukan oleh sektor keluarga disebut pengeluaran untuk konsumsi (consumption expenditure).

2) Sektor perusahaan atau sektor produsen
Pengeluaran yang dilakukan oleh sektor perusahaan akan membentuk apa yang disebut investasi (investment expenditure).

3) Sektor pemerintah
Pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah disebut pengeluaran pembelian pemerintah (government expenditure).
4) Sektor perdagangan luar negeri
Pengeluaran dari sektor luar negeri disebut ekspor neto, yakni selisih antara jumlah ekspor dikurangi dengan jumlah impor.

 Perhatikan tabel nilai ekspor berikut ini.
http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/Perkembangan-nilai-ekspor-11-komoditi-utama-industri-dan-pertambangan-Indonesia-tahun-2004-2005-Januari%E2%80%93Mei.png
  
     Perkembangan nilai ekspor 11 komoditi utama industri dan pertambangan Indonesia tahun 2004, 2005 (Januari–Mei)
2005 dan 2006 (dalam juta dollar AS). Sumber: BPS (diolah Ditjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan, dengan HS dua digit) Keterangan: *) Angka sementara
.

Adapun komponen pada pendapatan / income nasional dari sisi pengeluaran meliputi berikut ini.
1) Pengeluaran konsumsi (C), meliputi semua pengeluaran rumah tangga keluarga dan perseorangan serta lembaga swasta bukan perusahaan untuk membeli barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan.

2) Pengeluaran investasi (I) meliputi semua pengeluaran domestik (dalam negeri) yang dilakukan oleh swasta untuk mendirikan bangunan, mesin-mesin, perlengkapan, dan jumlah persediaan perusahaan.

3) Pengeluaran pembelian pemerintah (G), terdiri pembayaran pensiun, beasiswa, subsidi dalam berbagai bentuk, dan transfer pemerintah.
4) Ekspor neto (X–M), meliputi keseluruhan jumlah barang dan jasa yang diekspor dan diimpor. Jika ekspor lebih besar dari impor, maka ekspor neto bertanda positif (+). Sebaliknya bila ekspor lebih kecil dari impor, maka ekspor neto bertanda negatif (–).








  Bila komponen-komponen tersebut dituliskan dalam bentuk persamaan, maka akan tampak sebagai berikut.

http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/1-30-2013-5-46-42-PM.png

Keterangan:
GNP
     = Gross National Product atau Pendapatan (income) Nasional Bruto (PNB)
C
          = pengeluaran untuk konsumsi barang dan jasa
I
            = pengeluaran untuk investasi
G
         = pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa
X
           = nilai barang ekspor
M
          = nilai barang impor
X – M
    = ekspor neto

Berikut ini tabel contoh penghitungan pendapatan “income” nasional dari sisi pengeluaran.

       http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/l.png
      Contoh pendapatan tingkat nasional dari sisi pengeluaran


c. Komponen pada Pendapatan /income Nasional dari Sisi Pendapatan
   Dari sisi pendapatan, pendapatan ‘income’ nasional dihitung dengan menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi, yang terdiri atas sewa, upah dan gaji, bunga, dan laba.
   Jadi, komponen pada pendapatan “tingkat” nasional dari sisi pendapatan adalah:
1) sewa (rent income) atau disingkat r,
2) upah dan gaji (wage and salary income) atau disingkat w,
3) bunga (interest income) atau disingkat i, dan
4) laba usaha (profit income) atau disingkat p.
Dalam bentuk persamaan dapat dirumuskan sebagai berikut.
  
http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/h.png

Berikut ini tabel contoh penghitungan pendapatan (income) nasional dari sisi pendapatan.

http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/kl.png

d. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pendapatan ‘income’ Nasional
     Setiap komponen dari pendapatan “income” nasional suatu negara sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pihak pembeli dan pihak penjual.

1) Pihak pembeli atau konsumen, artinya pendapatan yang diterima oleh setiap konsumen dikeluarkan kembali untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/produsen. Pengeluaran untuk pembelian tersebut dinamakan pengeluaran konsumsi (C = consumption), dan pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi dinamakan tabungan (S = saving). Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa:

http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/1-30-2013-5-55-13-PM.png
Keterangan:
Y = Tingkat pendapatan
C = Tingkat konsumsi
S = Tingkat tabungan

2) Pihak penjual atau produsen, artinya barang-barang yang dihasilkan oleh produsen terdiri atas barang-barang konsumsi atau consumption (C) dan barang-barang modal atau investasi (I). Barang modal yang dimaksud di antaranya gedung, pabrik, jalan, alat angkut, mesin, dan barang konsumsi persediaan.
Dengan demikian pendapatan / income nasional dari pihak produsen dapat dirumuskan sebagai berikut.

http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/1-30-2013-6-01-40-PM.png

Keterangan:
Y = tingkat pendapatan
C = tingkat konsumsi
I = tingkat investasi

    Dari kedua rumus tersebut dapat dianalisis, apabila nilai Y tetap dan terjadi peningkatan nilai C, maka hal ini berarti menurunkan nilai S sebesar kenaikan C. Sementara itu apabila I meningkat dan C tetap, maka dapat dipastikan Y nilainya naik. Dengan demikian S nilainya juga meningkat, masingmasing sebesar kenaikan I. Jadi, dapat disimpulkan bahwa besarnya I selalu diikuti oleh besarnya S, atau dapat dikatakan besarnya S sama dengan besarnya I. Bila ditulis akan didapat rumus berikut ini.
http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/1-30-2013-6-03-33-PM.png

3. Cara Penghitungan Pendapatan “income” Nasional
   Dalam penghitungan pendapatan income nasional suatu negara dikenal beberapa konseppendapatan nasional, konsep konsep ini di antaranya sebagai berikut.

a. Konsep Gross Domestic Product (GDP) atau konsep Produk Domestik        Bruto (PDB) adalah jumlah seluruh produksi yang dihasilkan masyarakat, baik masyarakat asing yang berada di dalam negeri, maupun masyarakat nasional dalam waktu satu tahun secara nasional.

b. Konsep Gross National Product (GNP) atau konsep Produk Nasional Bruto (PNB) adalah jumlah seluruh produk yang dihasilkan oleh masyarakat nasional suatu negara tanpa menghitung produk yang dihasilkan oleh masyarakat asing di dalam negeri dalam waktu satu tahun secara nasional.

c. Konsep Nett National Product (NNP) atau konsep Produk Nasional Bersih adalah GNP setelah dengan penyusutan dan perbaikan barang modal.

d. Konsep Net National Income (NNI) atau konsep Pendapatan “income” Nasional Bersih adalah NNP setelah dikurangi pajak tidak langsung, yang merupakan pendapatan ‘income’ nasional yang dihitung berdasarkan balas jasa yang diterima para pemilik faktor produksi.
e. Konsep Personal Income (PI) atau konsep pendapatan perseorangan adalah NNI dikurangi dengan dana sosial, pajak perusahaan, laba yang ditahan dan ditambah transfer payment pemerintah. Transfer payment (pembayaran tambahan) yang merupakan pendapatan yang diterima oleh masyarakat atau rumah tangga.

f. Konsep Disposible Income (DI) atau konsep pendapatan yang siap dibelanjakan adalah pendapatan yang benar-benar diterima oleh masyarakat dan siap untuk dibelanjakan.




DI dipergunakan untuk dua sektor, yaitu:
– saving (tabungan) adalah pendapatan yang tidak dikonsumsi,
– consumption (konsumsi) adalah pendapatan yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau seseorang.

   Besar DI yaitu PI dikurangi pajak langsung/pajak personal/ pajak perseorangan.
Untuk memberikan gambaran tentang penghitungan pendapatan “income” nasional, di bawah ini diberikan contoh cara menghitung pendapatan (income) nasional pada suatu negara. Angka berikut hanya merupakan contoh saja, agar memudahkan cara berpikir.
http://www.plengdut.com/wp-content/uploads/2013/01/1-30-2013-6-33-49-PM.png
Untuk lebih memperjelas gambaran tentang besarnya PDB nasional negara Indonesia, berikut ini disajikan data pertumbuhan PDB dari tahun 1999 sampai dengan 2004.
Laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto atas dasar harga konstan 1993 menurut lapangan usaha tahun 1999–2004 (persen).
Contoh Laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto secara nasional atas dasar harga konstan 1993 menurut lapangan usaha tahun 1999–2004 (persen). Sumber: BPS, Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2004 (data diolah dalam persen). Catatan: *) Angka sementara. **) Angka sangat sementara.
4. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto merupakan produksi yang dihasilkan oleh suatu masyarakat yang berada di daerah/regional tertentu dalam kurun waktu 1 tahun. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator ekonomi nasional yang memuat berbagai instrumen ekonomi yang di dalamnya terlihat dengan jelas keadaan makro ekonomi suatu daerah dengan pertumbuhan ekonominya, pendapatan per kapita, dan berbagai instrumen lainnya.
Dengan adanya data-data tersebut akan sangat membantu pengambil kebijakan dalam perencanaan dan evaluasi sehingga pembangunan tidak salah arah. Angka PDRB sangat dibutuhkan dan perlu disajikan, karena selain dapat dipakai sebagai bahan analisis perencanaan pembangunan juga merupakan barometer untuk mengukur hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan. Untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang Produk Domestik Regional Bruto, berikut ini disajikan PDRB untuk Kota Semarang.





5. Distribusi Pendapatan ‘income’ Nasional
     Distribusi pendapatan (income) nasional merupakan unsur penting untuk mengetahui tinggi rendahnya kesejahteraan atau kemakmuran suatu negara. Distribusi pendapatan yang merata kepada masyarakat secara nasional akan mampu menciptakan perubahan dan perbaikan, seperti peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional, pengentasan kemiskinan nasional, mengurangi pengangguran nasional, dan sebagainya. Sebaliknya distribusi pendapatan yang tidak merata perubahan atau perbaikan suatu negara tidak akan tercapai. Hal seperti inilah yang akan menunjukkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan.

Berikut adalah data penduduk miskin perkotaan dan pedesaan di Indonesia.


Grafik tentang data penduduk miskin (kota & desa) tahun 1996–2005. Sumber: Susenas


Contoh Grafik tentang data penduduk miskin (kota & desa) secara nasional tahun 1996–2005.
Sumber: Susenas




        Pendapatan Perkapita
      Pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan perkapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan perkapita juga merefleksikan PDB  perkapita.
    Pendapatan per kapita (per capita income) adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu, yang biasanya satu tahun. Pendapatan per kapita bisa juga diartikan sebagai jumlah dari nilai barang dan jasa rata-rata yang tersedia bagi setiap penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu. Pendapatan per kapita diperoleh dari pendapatan nasional pada tahun tertentu dibagi dengan jumlah penduduk suatu negara pada tahun tersebut.
     Pendapatan perkapita sering digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan perkapitanya, semakin makmur negara tersebut.
      Konsep pendapatan nasional yang biasa dipakai dalam menghitung pendapatan per kapita pada umumnya adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atau Produk Nasional Bruto (PNB). Dengan demikian, pendapatan per kapita dari suatu negara dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Contoh:
Negara x pada tahun t memiliki produk domestik bruto sebesar US $ 1.000.000.000,00 dan jumlah penduduk sebanyak 10.000.000 jiwa. Berapa pendapatan per kapita negara x pada tahun t?
Jawab:
PNB perkapita negara x pada tahun t adalah:
      Hal ini terjadi, karena di dunia yang arus globalisasinya semakin gencar, kejadian atau masalah yang terjadi di suatu negara atau kawasan tertentu akan berdampak pula pada negara lainnya.
      Pertumbuhan PNB riil per kapita di suatu negara atau di suatu kawasan, tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan ekonomi negara atau kawasan yang bersangkutan. Coba saja Anda bandingkan tabel 1.3 dan tabel 1.4 di bawah ini. Apa yang Anda bisa simpulkan?
     Dari perbandingan tabel 1.3 dan tabel 1.4 bisa diambil kesimpulan, bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara berbanding lurus dengan pertumbuhan PNB riil per kapita. Apabila pertumbuhan ekonominya naik, maka pertumbuhan PNB riil per kapita juga naik. Tentunya hal tersebut sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan pendapatan nasional dan pertumbuhan jumlah penduduknya.
      Selanjutnya tentu Anda bertanya-tanya, untuk apa sih perhitungan pendapatan per kapita ini di pelajari? Coba Anda jawab sendiri lalu bandingkan dengan manfaat pendapatan per kapita di bawah ini.
1. Mengetahui perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu negara.
2. Mengetahui perkembangan tingkat kesejahteraan di berbagai negara.
3. Dapat mengelompokkan suatu negara berdasarkan pengelompokkan Bank Dunia.
4. Dapat memperkirakan syarat yang harus dipenuhi oleh suatu negara dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

     Untuk Anda sendiri, kira-kira manfaat apa yang dapat diperoleh dari mempelajari pendapatan per kapita ini? Saya yakin banyak jawaban yang bisa muncul. Minimal Anda dapat menggunakan cara menghitung pendapatan per kapita untuk anggota keluarga Anda sendiri.
Cobalah Anda ikuti langkah berikut ini!
a. Tanyakan pada orang tua Anda berapa rata-rata penghasilannya tiap bulan, lalu kalikan 12, untuk mencari penghasilan setahun.
b. Hitung jumlah anggota keluarga Anda.
c. Penghasilan setahun (a) dibagi jumlah anggota keluarga (b), hasilnya adalah pendapatan per kapita dari keluarga Anda.
d. Bandingkan pendapatan per kapita keluarga Anda dengan pendapatan perkapita Indonesia.

     Berapa hasilnya? Anda tentu telah mengikuti langkah-langkah di atas dan hasilnya telah Anda ketahui. Jika hasilnya lebih tinggi berarti pendapatan per kapita keluarga Anda ada di atas rata-rata pendapatan penduduk Indonesia. Begitupun sebaliknya, bila hasilnya lebih kecil tentu pendapatan perkapita keluarga Anda berada di bawah rata-rata pendapatan nasional!
Menurut Adam Smith, ada tiga tugas pemerintahan suatu negara terhadap masyarakatnya.
1. Melindungi masyarakat dari serangan pihak luar
2. Melindungi masyarakat dari ketidakadilan atau gangguan masyarakat lain.
3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

     Khusus menyangkut peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemerintah Indonesia khususnya berusaha mencapainya dengan pembangunan di berbagai sektor. Hasil pembangunan diharapkan dapat meningkatkan output berupa barang dan jasa yang berkualitas serta dalam jumlah yang meningkat. Dari sinilah diharapkan akan adanya peningkatan pendapatan nasional yang merupakan cikal bakal peningkatan pendapatan per kapita.
Apakah tingginya pendapatan per kapita suatu negara betul–betul dapat menjamin kemakmuran rakyatnya?
Jawabannya belum tentu. Sebab, bisa saja tingginya pendapatan per kapita itu dihasilkan oleh tingginya pendapatan nasional dari sebagian kecil penduduk suatu negara. Jadi masalahnya terletak pada distribusi pendapatan nasional itu sendiri. Bila sebagian besar masyarakat suatu negara memperoleh pendapatan yang cukup tinggi, maka pendapatan per kapita bisa dijadikan sebagai tolak ukur kemakmuran rakyat suatu negara.
                                                                                                                                

         Sementara itu, pembangunan ekonomi (economic development) yaitu pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan perubahan dalam struktur ekonomi dan corak kegiatan ekonomi atau usaha guna untuk pertumbuhan ekonomi (economic growth) yaitu perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang mengakibatkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat menin gkat dalam jangka panjang.
      Pertumbuhan ekonomi tersebut adalah salah satu indikator yang sebenarnya, pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan ekonomi secara fisik yang terjadi di suatu negara, seperti pertambahan jumlah dan produksi barang industri, perkembangan infrastruktur, pertambahan jumlah sekolah, perkembangan barang manufaktur, dan sebagainya. keberhasilan pembangunan.
    Dalam kegiatan ekonomi meningkatkan pendapatan per kapita dengan jalan mengolah kekuatan ekonomi potensial menjadi ekonomi riil melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan, peningkatan keterampilan, serta penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen.
Contoh Pertumbuhan Ekonomi
  • Adanya pembangunan pabrik-pabrik besar dan pembangkit listrik
  • Indonesia menjalin kerjasama ekonomi dgn beberapa negara
  • Iegara Indonesia melakukan ekspor ke beberapa negara
  • Indonesia bergabung dgn beberapa organisasi ekonomi dunia
  • Beberapa produk hsil Indonesia menjadi produk unggulan di beberapa negara
·         Pajak adalah iuran wajib yang dibayar oleh wajib pajak berdasarkan norma-norma hukum untuk membiayai pengeluaran kolektif guna meningkatkan kesejahteraan umum yang balas jasanya tidak diterima secara langsung.
·         Secara menyeluruh pengelompokan pajak dilakukan berdasarkan tiga faktor yaitu sebagai berikut:



1. Berdasarkan Pihak Yang Menanggung
Berdasarkan pihak yang menaggung, pajak dibedakan menjadi pajakk langsung dan pajak tidak langsung.
a. Pajak Langsung
    Pajak langsung adalah pajak yang pembayarannya harus di tanggung sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dialihkan kepada pihak lain. Pajak langsung merupakan pajak yang dikenakan terhadap wajib pajak pribadi atau perorangan dan badan yang harus dibayar secara periodik berdasarkan surat ketetapan pajak. Contohnya Pajak Penghasilan (PPH) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).


b.      Pajak Tidak Langsung
    Pajak tidak  langsung adalah pajak yang pembayarannya dapat dialihkan kepada pihak  lain. Pajak tidak langsung merupakan pajak yang dikenakan terhadap setiap perbuatan atau peristiwa ekonomi dan dipungut tanpa surat ketetapan pajak. Contoh pajak tidak langsung adalah Pajak Penjualan(PPn), Pajak Pertambahan Nilai ( PPN), Bea Materai, dan Cukai.

             2.Berdasarkan Pihak Yang Memungut
Berdasarkan pihak yang memungut, pajak dibedakan menjadi pajak negara dan pajak daerah.

a. Pajak  Negara
      Pajak negara atau pajak pusat adalah pajak yang dipungut pemerintah pusat. Pajak pusat merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Pajak pusat diatur dalam suatu peraturan yang disebut undang-undang tentang perpajakan nasional. Pelaksanaan pemungutannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Contoh pajak negara adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjalan (PPn), dan Bea Materai

b. Pajak Daerah
     Pajak daerah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah. Pajak daerah merupakan salah satu sumber penerimaan  pemerintah daerah. Setiap daerah mempunyai objek pajak tersendiri. Hal ini sesuai dengan peraturan daerah masing-masing. Pajak daerah diatur dalam suatu peraturan yang disebut peraturan daerah  (PERDA).Pelaksanaa pemungutannya dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah. Contoh pajak daerah adalah iuran kebersihan, retribusi masuk terminal, pajak tontonan, pajak reklame retribusi parkir, dan retribusi galian pasir.

3. Berdasarkan sifatnya
Berdasarkan sifatnya, pajak dibedakan menjadi pajak subjektif dan pajak objektif.


a Pajak subjektif
    Pajak Subjektif adalah pajak ysng memperhatikan kondisi/keadaan wajib pajak. Dalam hal ini penentuan besarnya pajak harus ada alasan objektif yang berhubungan erat dengan kemammpuan membayar wajib pajak. Jenis pajak yang termasuk pajak subjektif ialah  Pajak Penghasilan (PPh).


b. Pajak Objektif
    Pajak objektif adalah pajak yang berdasarkan pada objeknya tanpa memperhatikan keadaan wajib pajak. Jenis pajak yang termasuk dalam pajak objektif adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan  Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn-BM).
·         Dalam perekonomian yang telah mengenakan pajak, perhubungan diantara pendapatan disposibel dan pendapatan nasional dapat dinyatakan secara berikut:
·         Pendapatan disposibel (Yd) = Pendapatan nasional (Y) – Pajak (T)
·         Penurunan pendapatan disposebel akan mengurangi konsumsi dan tabungan rumah tangga. Hal ini disebabkan karena pajak yang dibayarkannya mengurangi kemampuannya untuk melakukan pengeluaran konsumsi dan menabung. Pajak yang dipungut akan mengurangi pendapatan disposibel sebanyak pajak yang dipungut. Penurunan pendapatan disposibel menyebabkan pengeluaran konsumsi dan tabungan rumah tangga akan berkurang pada berbagai tingkat pendapatan. Walaupun bentuk sistem pajak yaitu pajak tetap pemungutan pajak akan mengakibatkan konsumsi dan tabungan rumah tangga berkurang sebanyak yang ditentukan oleh persamaan berikut:
ΔC=MPCxT
ΔS = MPS x T

            Pajak yang diterima pemerintah akan digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pemerintah. Dinegara-negara yang sudah sangat maju, Pajak adalah sumber utama dari pembelanjaan pemerintah, sebagian dari pengeluaran pemerintah adalah untuk membiayai administrasi pemerintahan dan untuk membiayai kegiatan-kegiatan pembangunan, membayar gaji pegawai-pegawai pemerintah, membiayai sistem pendidikan dan kesehatan rakyat, membiayai pembelanjaan untuk angkatan bersenjata dan membiayai berbagai jenis infrastruktur yang penting artinya dalam pembangunan adalah beberapa bidang penting yang akan dibiayai pemerintah.

   Penentu-Penentu Pengeluaran Pemerintah
a. Proyeksi jumlah pajak yang di terima: Dalam menyusun anggaran belanja pemerintah harus terlebih dahulu membuat proyeksi mengenai jumlah pajak yang akan diterimanya. Makin banyak jumlah pajak yang akan dapat di kumpulkan, makin banyak pula perbelanjaan pemerintah yang akan di lakukan.
b. Tujuan-tujuan ekonomi yang ingin dicapai: Mengatasi masalah pengangguran, menghidari inflasi dan mempercepat pembangunan ekonomi. Untuk mempercepat kegiatan tersebut seringkali membelanjakan uang yang lebih besar dari pendapatan yang di peroleh oleh pajak.

c. Pertimbangan politik dan keamanan: Pertimbangan-pertimbangan politik dan kestabilan negara selalu menjadi salah satu tujuan penting dalam menyusun anggaran belanja pemerintah. Kekacauan politik, keamanan. Keadaan seperti itu akan menyebabkan kenaikan perbelanjaan pemerintah yang sangat besar.


  Pendapatan Keseimbangan,

Y = C + I + G
S + T = I + G

Keterangan :
 Y   =pendapatan nasional
T    =Pajak
 C   = konsumsi
  I    = investasi
 G   = pengeluaran pemerintah
  S   = saving

Contoh :
Diketahui C0 atau a = 50. MPC = 0.75. I=Io=20. G=15
Ditanya tentukan keseimbangan pendapatan nasional :

Dijawab : Y = C + I + G
C = 50 + 0.75Y
I = 20
G = 15
Y = 50 + 0.75Y + 20 + 15
Y = C + I + G = 85 + 0.75Y
0.25Y = 85











 syarat-syarat umum untuk perkembangan ekonomi

: 1. Indegenous forces (kekuatan dari dalam) utk berkembang.
  2. Mobilitas faktor-faktor produksi
  3. Akumulasi capital
  4. Kriteria atau arah investasi yang sesuai dengan kebutuhan
  5. Penyerapan capital
  6. Stabilitas dan nilai serta lembaga- lembaga yang ada

INDEGENOUS FORCES (KEKUATAN DARI DALAM) UTUK BERKEMBANG Ø Merupakan kekuatan yang ada dalam masyarakat itu sendiri untuk berkembang (Suparmoko: 2008, 260). Ø Misalnya: Bantuan luar negeri belum tentu menjamin terus berkembangnya perekonomian. Prakarsa dan pengaturan lembaga- lembaga masyarakat untuk perkembangan harus tumbuh dari masyarakat sendiri

MOBILITAS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI Ø Ketidaksempurnaan pasar (market imperfections) akan sangat membatasi mobilitas faktor-faktor produksi dari penggunaan yang kurang produktif ke penggunaan yang lebih produktif. Ø Untuk mengatasi market imperfections maka market imperfection harus ditiadakan sehingga faktor produksi dapat digunakan sepenuhnya

MOBILITAS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI Usaha Menghilangkan Market Imperfections :

 a. Mengganti bentuk-bentuk organisasi sosial dan ekonomi
 b. Memberikan kesempatan-kesempatan untuk produktivitas pada tingkat teknik yang
 c. Penjualan produk diperluas
 d. Keadaan monopoli harus dikurangi
 e. Pasar kapital diperluas
 f. Kredit dipermudah bagi petani-petani dan pedagang kecil untuk perkembangan        ekonomi.

AKUMULASI KAPITAL Ø Akumulasi kapital (capital accumulation) terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan dengan tujuan memperbesar output dan pendapatan di kemudian hari. (Todaro: 1999, 124)

 Akumulasi dapat berwujud kenaikan dalam volume tabungan riil, sehingga sumber-sumber uang yang semula untuk tujuan-tujuan konsumtif dapat diarahkan untuk tujuan-tujuan produktif Incremental Capital Output Ratio (ICOR) ICOR merupakan Tambahan setiap modal dibandingkan dengan tambahan hasil/output.

 COR (Capital Output Ratio): Perbandingan antara kapital yang diperlukan dengan rasio yang ingin dicapai ICOR = ΔK/ ΔY ΔK: Penambahan Modal ΔY: Penambahan Pengeluaran.

Pertimbangan dalam mengukur banyaknya kapital yang dibutuhkan bagi perkembangan ekonomi: a. Perkiraan tingkat pertambahan penduduk b. Target kenaikan pendapatan riil per kapita c. Angka rasio pertambahan antara investasi dan output atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) AKUMULASI KAPITAL Faktor-faktor yang mempengaruhi ICOR:

 1. Sumber daya alam
 2. Industri – industri
 3. Teknologi baru
 4. Kepadatan penduduk
 5. Investasi
 6. Kebijaksanaan pemberian pekerjaan

 EXAMPLE: Produk nasional pada saat ini adalah 1000 dan tingkat tabungan (rate of saving) adalah 8%, sedangkan ICOR sebesar 4. Hitunglah laju perkembangannya (rate of growth)? Domestic saving = rate of saving x produk nasional = 8% x 1000 = 80 (investasi) Kenaikan hasil produksi nasional = investasi/ICOR = 80/4 = 20 Maka Laju Perkembangannya = kenaikan hasil produksi nasional Produksi Nasional = 20/1000 = 2%

 MENAIKKAN PENDAPATAN PER KAPITA DENGAN MENINGKATKAN        AKUMULASI KAPITAL Cara meningkatkan Investasi:
 a. Tingkat saving dinaikkan dengan membatasi konsumsi, misalnya : pajak
b. Pemerintah menjual obligasi negara
c. Pembatasan impor barang konsumsi hingga barang kapital (Alat-alat    produksi)
d. Dengan menargetkan inflasi
e. Memindahkan pengangguran tersembunyi (disguised unemployment) dari sektro pertanian ke sektor industri dan jasa
.f. Memperluas sektor perdagangan internasional dengang menaikkan TOT     (Term of trade) hingga peminjaman capital

KRITERIA DAN ARAH INVESTASI Karena kriteria Investasi bersifat dinamis, yang perlu diperhatikan dalam kriteria umum adalah: o Investasi harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga memaksimalkan perbandingan antara output dan kapital (COR rendah).

 Proyek yang dipilih harus memberikan perbandingan yang memaksimalkan penggunaan tenaga kerja terhadap investasi. o Investasi hendaknya mampu mengurangi Neraca Pembayaran Internasional sehinga memaksimumkan perbandingan ekspor dan investasi Faktor yang perlu diperhatikan pada investasi produktif:

 1. Pendapatan per kapita
 2. Pendapatan nasional
 3. Faktor waktu
 4. Kepentingan maasyarakat
 5. Unsur pasar
6. Titik pertumbuhan
7. Pertumbuhan seimbang
8. Teknik produksi


·         PENYERAPAN KAPITAL DAN STABILITAS Kemampuan penyarapan kapital (capital absorption capacity) dikarenakan oleh:
Ketersediaan faktor produksi komplementer yang bekerja sama dengan
capital
Syarat yang diperlukan untuk menghindari inflasi dan untuk mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran internasional
Keterbatasan pada kapasitas menyerap kapital di NSB:
a. Kurangnya teknologi
b.Kurangnya tenaga ahli
c. Kurangnya mobilitas faktor produksi
d.Kurangnya tenaga kerja terampil

·          NILAI DAN LEMBAGA-LEMBAGA YANG ADA
     Nilai dan Lembaga disini bersifat nonekonomi o Perkembangan ekonomi dapat melaju cepat bila diciptakan kebutuhan- kebutuhan baru, motif-motif baru, cara/metode produksi baru, demikian pula harus ada perubahan lembaga- lembaga yang ada dalam masyarakat. o Kriteria ekonomi dan investasi saja tidak cukup digunakan sebagai patokan kebijaksanaan investasi. Untuk menggunakan mesin-mesin yang kompleks, dibutuhkan orang kreatif, dan berpengaruh umum.

 

Teori Perdagangan Internasional


          Saat ini perdagangan internasional bukan hanya bermanfaat untuk bidang ekonomi saja melainkan bermanfaat untuk bidang lain seperti politik, sosial, dan pertahanan keamanan. Beberapa model atau teori perdagangan internasional yang ada:

a. Teori Merkantilisme (Mirabeau)

Teori Merkantilisme, yaitu paham yang mengajarkan bahwa kemakmuran perekonomian suatu negara dengan memaksimalkan surplus perdagangan. Teori Merkantilisme mempunyai prinsip:
  1. Mencari logam mulia sebanyak-banyaknya 
  2. Mengusahakan neraca perdagangan aktif 
  3. Monopoli perdagangan 
  4. Memperluas daerah jajahan
  5. Membatasi impor dan meningkatkan ekspor

b. Teori Keuntungan Mutlak (Adam Smith)

Teori Keuntungan Mutlak berdasarkan pada pembagian kerja internasional yang menimbulkan spesialisasi dan efisiensi produksi dalam menghasilkan suatu barang. Teori keuntungan mutlak mempunyai prinsip:
  1. Kemampuan negara untuk mengembangkan produksi melalui perdagangan.
  2. Macam keuntungan ada dua, yaitu karena ilmiah dan teknologi.
  3. Dalam perdagangan, masing-masing negara akan mengadakan spesialisasi kerja pada produksi yang mempunyai keunggulan mutlak, yaitu jam kerja per hari yang paling kecil.
c. Teori Keuntungan Komparatif (David Ricardo)

Teori Keuntungan Komparatif berdasarkan pada perbandingan biaya yang dikeluarkan suatu negara dalam memproduksi suatu barang dibandingkan dengan negara lain sehingga negara dengan biaya rendah akan mengimpor dan negara dengan biaya yang tinggi mengekspor barang tersebut.

d. Teori Permintaan Timbal Balik (John Stuart Mill)

Teori Permintaan Timbal Balik sebenarnya kelanjutan dari Teori Keunggulan Komparatif yaitu melakukan kesimbangan antara permintaan dengan penawaran. Hal ini disebabkan baik itu permintaan maupun penawaran menentukan besarnya barang yang akan diekspor dan barang yang akan diimpor.





Komentar